Pages

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

EJAAN

A.Pengeritian Ejaan
Yang dimaksud dengan ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana hubungan antar lambang-lambang itu (pemisan dan penggabungannya dalam satu bahan) secara teknis yang dimaksud dengan ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata dan pemakaian tanda baca.
B.Pengembangan Ejaan Pada Anak
Dalam prinsip alfabetik menunjukan adanya kesesuaian antara fonem dengan grafem, namun ejaan bahasa inggris bersifat fonetis hanya pada saat-saat tertentu. Ejaan ini mencerminkan dari bahasa mana sebuah kata di pinjam. Misalnya kata-kata yang diawali dengan al-, alcohol adalah kata dari bahasa Arab, dan energy adalah kata dari bahasa yunani. Kata-kata lain dieja untuk mencerminkan hubungan sematik (makna kata), bukan hubungan fonologi. Pengejaan kata national dan nation serta kata grade dan gradual mengindikasikan hubungan makana walaupun ada huruf vocal (huruf hidup) atau perubahan konsonan pada pengucapan pasangan kata tersebut. Jika bahasa inggris adalah bahasa yang murni fonetis, maka akan lebih mudah mengeja kata, tapi pada saat yang sama baahasa inggris akan kehilangan banyak makna keduniawiannya.
Siswa sekolah dasar mengeja dasar-dasar fonetis pada bahasa inggris sebagaimana mereka mempelajari tentang kesesuian antara fonem-grafem, dan kemudian mereka memperlua/meningkatkan pengetahuan mereka tentang ejaan melalui membaca dan menulis. Ejaan anak yang mencerminkan tumbuhnya kesadaran mereka pada ortografi bahasa inggris, dikenal sebagai invented speliing (ejaan buatan/ciptaan), dan selama disekolah dasar anak kemudian tidak lagi menulis huruf satu demi satu dalam menulis kata secara bertahap sampai meraka dapat mengeja dengan lazim/biasa.

1.Invented Spelling (Ejaan Buatan/Ciptaan)
Saat anak usia muda belajar menulis, mereka menciptakan ejaan yang unik yang sebut invented spelling (ejaan buatan/ciptaan) berdasarkan pengetahuan mereka tentang ottografi bahasa inggris. Ejaan buatan/ciptaan ini juga dikenal dengan temporary spelling (ejaan sementara) dan kid speliing (ejaan anak). Charles read (1971, 1975, 1986), salah seorang peneliti yang pertama kali mempelajari yang dilakukan anak pra sekolah untuk mengeja kata-kata, menemukan bahwa anak pra sekolah menggunakan pengetahuan mereka tentang fonologi untuk membuat sebuah ejaan. Anak-anak ini menggunakan nama huruf untuk mengeja kata, misalnya ejaan huruf U (you), dan R (are), dan mereka lebih konsisten menggunakan bunyi konsonan misalnya GRL (girl), TIGR (tiger), dan NIT (night). Anak-anak praa sekolah mengunakan menggunakan beberapa pola pengejaan yang tidak biasa tetapi bersifat fonetis dalam menunjukkan afrikasi mereka mengeja tr dengan chr (misalnya dragon dengan JRAGIN), dan mereka menggantij t dengan d (misalnya pretty dengan PREDE). Kata-kata dengan huruf vokal/huruf hidup yang panjang dieja dengan nama huruf: MI (my), LADE (lady), dan FEL (feel). Anak-anak ini menggunakan beberapa strategi cerdik untuk mengeja kata-kata menjadi kata yang berhuruf bervokal pendek. Anak-anak usia 3-,4,-,5 tahun secara konsisten memilih huruf-huruf yang berhuruf vokal pendek agar mudah diucapkan dimulut. Huraf i di ucapkan menjadi e seperti pada kat FES (fish), huruf e menjadi a seperti pada LAFFT (left), dan huruf o menjadi I seperti pada CLIK (clock). Pengejaan ini mungkin terdengar aneh bagi orang dewasa, namun pengejaan tersebut berdasarkan pada hubungan fonetis. Anak-anak sering menghilangkan bunyi sengau dalam kata ( misalnya end menjadi EN) dan mengganti –eg atau –ig untuk –ing (misalnya CUMIC) dari coming dan GOWEG dari going). Selain itu, mereka sering mengabaikan huruf vokal pada suku kata yang tidak beraksen/tidak diberi tekanan, seperti pada AFTR (after) dan MUTHR (mother).
Anak-anak ini mengembangkan strategi untuk mengeja berdasarkan pengetahuan mereka tentang sistem fonologi dan nama huruf, pendapat mereka tentang persamaan dan perbedaan fonetis, dan kemampuan mereka dalam meringkas informasi fonetis dari nama-nama huruf. Read menyarankan bahwa dari sekian banyak sifat-sifat fonetis dalam sistem fenologi, anak meringkas lebih jauh beberapa rincian fonetis lain dalam ejaan buatan/ciptaan mereka.
Karakteristik tahap-tahap pada ejaan buatan/ciptaan (invented spelling)
Tahap 1: precommunicative speliing (pengejaan pra komunikasi)
•Anak menggunakan tulisan cakar ayam, bentuk-bentuk yang menyerupai huruf, dan kadang-kadang nomor untuk mewakili pesan.
•Anak boleh menulis dari kiri kekanan, kekanan kekiri, atas kebawah, atau dengan acak pada halaman.
•Anak belum memahami kesesuaian antara fonem dengan grafem.
•Anak boleh mengulang-ulang beberapa huruf atau menggunakan sebagian besar huruf alfabet.
• Anak sering mencapurkan huruf besar dan huruf kecil, tapi mereka tidak memilih menggunakan huruf besar.
Tahap 2: semiphonetic spelling (pengejaan semi fonetis)
•Anak menjadi sadar akan prinsip alfabetis bahwa hutuf-huruf biasa digunakan untuk mewakili bunyi.
•Anak menggunakan singkatan satu, dua, atau tiga, huruf ejaan untuk mewakili keseluruh kata.
•Anak menggunakan strategi nama huruf (latter name) untuk mengeja kata-kata.
Tahap 3: phonetic speliing (pengejaan fonetis)
•Anak menyajikan semua bunyi esensial/utama pada sebuah kata dalam ejaan.
•Anak mengembangkan ejaan-ejaan tertentu dengan huruf vokal yang panjang atau pendek, bentuk jamak dan penanda kata kerja waktu lampau dan aspek-aspek pengejaan lainnya.
•Anak memilih huruf-huruf berdasarkan bunyi tanpa memandang rangkaian huruf-huruf bahasa inggris atau kaidah-kaidah lainnya.
Tahap 4: transitional spelling (ejaan peralihan)
•Anak mengikuti kaidah dasar ortografi bahasa inggris.
•Anak mulai menggunakan informasi marfologi dan visual selain informasi fonetis.
•Anak boleh memasukan semua huruf yang sesuai dalam sebuah kata namun dengan membalik beberapa huruf tersebut.
•Anak menggunakan ejaan pengganti untuk bunyi yang sama pada kata yang berbeda, tapi hanya sebagian yang mengerti kondisi-kondisi yang mempengaruhi penggunaan ejaan pengganti tersebut.
Tahap 5: conventional speliing (ejaan lazim)
• Anak menggunakan atuaran dasar sistem ortografi bahasa inggris.
• Anak memperluas pengetahuannya mengenai struktur bahasa termasuk pengejaaan imbuhan, singkatan, kata gabung, dan homonym.
•Anak menunjukkan ketepatan pertumbuhan dalam menggunakan konsonan diam dan konsonan ganda sebelum menambah akhiran.
•Anak mengenali kapan sebuah kata tidak benar dan dapat mempertimbangkan ejaan pengganti untuk bunyi yang sama.
•Anak belajar pola ejaan tidak beraturan.
•Anak belajar mengganti-ganti huruf huruf konsonan dan huruf vokal dan struktur morfologis lainnya.
•Anak mengetahui bagaimana mengeja kata-kata dalam yang banyak dengan lazim.
Dalam periode yang pendek yaitu saat usia 4 atau 5 tahun, anak beralih dari tahap precommunicative speliing (pengejaan pra komunikasi) ketahap conventional speliing (ejaan lazim). Pembelajaran ini terjadi melalui pengalaman membaca dan menulis dari pada melalui ejaan mingguan: ketika perhatian anak terlalu banyak dipusatkan pada kelaziman atau ejaan yang benar sebelum siswa mencapai tahap yang kelima, maka perkembangan alamiah mereka menjadi terganggu.
Anak terlalu sering dinasihati untuk “membunyikan” ejaan pada kata-kata yang tidak familiar atau untuk membatasi kata-kata yang mereka gunakan dalam tulisannya menjadi kata-kata yang meraka yakin sudah bisa mengejanya, namun latihan seperti ini menghambat perkembangan ejaan anak. Membunyikan atau mengucapkan ejaan suatu kata lebih mendorong anak untuk memberi penekanan pada prsesuaian fonem-grafem daripada membantu siswa dengan mendorong meraka mencari komponen ejaan non fonetik seperti anak dalam tahap-tahap perkembangan telah maju.
2.Perkembangan Ejaan Pada Anak Lebih Tua
Frith (1980) menyipulkan bahwa siswa yang lebih tua yang merupakan pembaca dan pengeja yang baik membuat kesalahan yang bersifat tradisional/pelatihan, sedangkan siswa merupakan pembaca dan pengeja yang buruk membuat kesalahan yang bersifat semifonetis dan fonetis.
Tekanan dan kekhawatiran orang tua secara periodic meningkatkan kekhawatiran akan ejaan buatan/ciptaan dan pentingnya ujian pengejaan mingguan. Hal ini nampaknya menjadikan masyarakat salah persepsi bahwa anak zaman sekarang tidak bisa mengeja. Peneliti yang menguji tipe-tipe kesalahan siswa telah mencatat bahwa jumlah kejadian salah eja meningkat sampai kelas 1-4, selama siswa menulis karangan, namun persentasi kesalahan semakin menurun. Persentasenya makin menurun pada kelas yang lebih tinggi, walaupun masih ada beberapa siswa yang tetap melakukan kesalahan (Taylor dan Kidder), 1988). The educational Tesing Service (pelayanan ujian pendidikan) (Applebee Langer), dan Mullis, 1987) melaporkan tentang frekuensi kesalahan pengejaan pada suatu kajian penulisan buku. Anak usia 9 tahun rata-rata mengeja 92% katadengan benar, anak usia 13 tahun dapat mengeja 97% kata dengan benar, anak usia 17 tahun 98% kata. Stewing (1987) dalam penelitiannya melaporkan bahwa siswa kelas 4 mengeja 98-99% kata yang benar. Data-data ini menunjukkan bahwa pada kelas 3 atau 4 sebagian besar merupakan pengeja konvensional, kesalahan yang meraka buat kurang dari 10%.
3. Menganalisis Perkembangan Ejaan Anak
Guru dapat menganalisis kesalahan pengejaan pada hasil karangan anak dengan mengklasifikasikan kesalahan tersebut dengan berdasarkan kelima tahap perkembangan ejaan. Analisis ini memberikan informasi mengenai tingkat perkembangan ejaan anak saat ini dengan jenis kesahana yang dibuat anak. Dengan mengetahui tahap perkembangan siswa, guru dapat menentukan tipe petunjuk yang sesuai. Anak yang belum mencapai tahap perkembangan ejaan konvensional anak yang tidak dapat mengeja setidaknya 90% kata dengan benar dan anak yang kesalahannya tidak kebanyakan pada tingkat peralihan tidak mendapat dari petunjuk penulisan baku. Malahan, harus diberikan petunjuk lebih awal untuk mendukung perkembangan pengejaan. Pelajaran-pelajaran kecil yang sesuai dengan tahap perkembangan siswa seperti pemblajaran visual dan strategi marfologis untuk mengeja peralihan/tradisional, lebih efektif digunakan.
C.Mengajarkan Pengejaan Disekolah Dasar
1.Komponen Dalam Pelajaran Mengeja
Siswa belajar mengeja melalui membaca dan menulis dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan itu. Pada bagian ini akan membahas 8 komponen pelajaran mengeja (spelling instruction).
1. Daily writing opportunities (kesempatan menulis setiap hari). Memberikan kesempatan pada siswa untuk menulis setiap hari merupakan persyaratan untuk suatu program pengejaan. Ejaan merupakan alat bagi penulis dan pengeja paling baik dipelajari melalui pengalaman menulis. Siswa yang menulis setiap hari dan membuat ejaan buat kata-kata yang tidak dikenal akan berpindah secara alami kearah tahap pengejaan konvensional/lazim. Ketika kita menulis, anak mengira-ngira mengeja berdasarkan pengetahuan mereka yang terus berkembang mengenai penyesuaian symbol bunyi dan pola ejaan. Sebagian besar tulisan informal yang ditulis siswa setiap hari tidak perlu dinilai dan kesalahan mengeja tidak perlu diberi tanda. Belajar mengaja tidak jauh berbeda dengan belajar main piano. Kesempatan menulis setiap hari ini merupakan sesi latihan, bukan belajar bersama guru.
2.Daily Reading Opportunitises (kesempatan membaca setiap hari). Membaca juga memainkan peranan penting dalam belajar mengeja. Selama membaca, siswa menyimpan bentuk visual dalam bentuk kata-kata. Kemampuan untuk mengigat kembali bagaimana penampakan suatu kata menbantu siswa memutuskan kapan ejaan yang meraka tulis tepat. Ketika siswa memutuskan bahwa sebuah kata terasa tidak benar, meraka dapat menulis ulang dengan beberapa cara yang berbeda sampai kata tersebut terasa benar, bertanya kepada guru atau teman sekelas yang tau ejaan kata tersebut atau mengecek ejaannya dikamus.
3.Word Walls (dinding kata). Salah satu cara untuk menyoroti perhatian siswa pada kata-kata dalam buku yang mereka baca atau dalam pelajaran sosial dan siklus pokok ilmu pengetahuan adalah dengan menggunakan Word Walls (dinding kata). Siswa dan guru memilih kata untuk ditulis didinding kata selembar kertas besar yang digantung di ruang kelas. Kemudian siswa mengacu pada dinding kata tersebut ketika belajar tentang kata dan ketika mereka menulis. Dengan melihata kata-kata dipasang pada dinding kata, klaster ataupun grafik/peta lainnya dalam kelas dan menggunakannya untuk membantu siswa belajar mengeja kata.
2.Proofreading (Koreksi Cetakan Percobaan).
Koreksi cetakan percobaan adalah jenis bacaan yang digunakan siswa untuk menemukan kesalahan pengejaan pada kata serta kesalahan mekanis lain dalam draf (konsep) kasar mereka. Selama siswa belajar mengenai proses menulis, meraka diperkenalkan pada Proofreading. Pada tahap editing (perbaikan) meraka menerima petunjuk yang lebih mendalam mengenai bagaimana menggunakan koreksi cetatan percobaan untuk menemukan kesalahan pengejaan dan kemudian mereka membperbaiki kesalahan tersebut. Melalui rangkaian pelajaran mini (mini lessons), siswa dapat mengoreksi kertas catatan percobaan siswa dan menandai kesalahan pengejaan kata. Lalu, dengan bekerja berpasangan, siswa dapat menperbaiki kesahan pengejaan kata.
Koreksi cacatan percobaan sebaiknya dipernalkan sejak kelas satu. Anak-anak muda dan guru-gurunya bekerjasama mengoreksi catatan percobaan kelas dan mendikte cerita bersama-sama, dan siswa dapat didorong untuk membaca semua karangan mereka dan membuat perbaikan yang penting segera setelah mereka memulai menulis. Dengan cara ini siswa menerima koreksi catatan percobaan sebagai suatu bagian alami dari membaca dan menulis. Kegiataan mengoreksi catatan percobaan lebih bernilai unttuk mengajar pengejaan dari pada kegiatan mendekti, dimana guru mendekti kalimat-kalimat untuk di tulis oleh siswa dengan penulisan huruf besar dan tanda baca yang benar. Beberapa orang menggunakan pendiktean dalam kehidupan sehari-hari, namun menggunakan keterampilan siswa untuk mengkoreksi catatan percobaan setiap kali mereka memperhalus sebuah kutipan-kutipan tulisan.
Dictionary Procedure (Tata Cara Kamus). Siswa perlu mempelajari bagaimna menemukan ejaan kata-kata yang tidak dikenal dikamus.
Spelling Options (Pilihan Ejaan). Dalam bahasa inggris ada alternative ejaan untuk banyak bunyi karena begitu banyak kata yang dipinjam dari bahasa lain dan kata tersebut tetap dipertahankan bentuk aslinya. Lebih banyak pilihan untuk huruf vokal dari pada untuk huruf konsonan. Walaupun demikian, ada 4 pilihan ejaan untuk /f/ (f,ff, ph, gh). Pilihan ejaan kadang-kadang bervariasi tergantung pada posisinya dalam kata. Misalnya, ff dan gh digunakan untuk mewakili /f/ hanya pada akhir kata, seperti pada kata cuff dan laugh (dibaca kaf dan laf). Pilihan ejaan yang umum untuk fonem daftar lampiran D.
Guru membatasi pilihan ejaan hanya pada kata-kata yang meraka tulis didinding kata dan hanya bila siswa bertanya tentang ejaan suatu kata. Mereka juga dapat menggunakan rangkaian pelajaran mini untuk mengajar siswa dikelas yang lebih tinggi mengenai pilihan-pilihan ini. Selama masing-masing pelajaran mini (mini lessons) siswa dapat befokus pada satu fonem, seperti /f/ atau /ar/, dan dalam sebuah satu kelompok kecil siswa mengembangkan daftar tentang berbagai cara suatu bunyi eja dalam bahasa inggris dengan contoh masing-masing ejaan tersebut.
Strategi untuk mengeja kata-kata yang tidak dikenal. Siswa pengembangkan sebuah daftar strategi agar dapat mengeja kata-kata yang tidak dikenal, beberapa strategi tersebut antara lain:
•Membuat ejaan untuk kata-kata berdasarkan fofologikal, sematik (arti kata), dan pengetahuan mengenai asal-usul kata.
•Mengoreksi catatan percobaan untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan pengejaan.
•Menemukan kata pada dinding kata atau grafik lainny.
•Memperkirakan ejaan sebuah kata dengan membuat ejaan yang mungkin dan memilih alternative yang terbaik.
•Menambahkan imbuhan untuk kata dasar.
•Mengeja kata-kata yang tidak dikenal dengan menganalogikannya dengan kata yang sudah dikenal.
•Menemukan ejaan kata tak dikenal dalam sebuah kamus atas buku-buku sumber lainnya.
•Menulis rangkaian huruf di draf/coretan kasar sebagai pegangan dalam menyingkat kata yang tak dikenal.
•Bertanya pada guru atau teman sekelas bagaimana mengaja suatu kata.
•Mempunyai hak milik atas sebuah kata atau mengetahui kapan suatu pengejaan kata sudah diinternalisasikan.
3.Ujian Mengeja Mingguan
The master Word List (daftar kata utama), guru membuat daftar 25-50 kata setiap minggu dari berbagai tingkat kesulitan saat siswa memilih kata untuk dipelajari. Kata-kata pada daftar utama digambarkan dari kata-kata yang ditulis siswa pada proyek karya tulis mereka minggu lalu, kata-kata yang sering muncul, dan kata-kata yang berhubungan dengan suatu fokus literatur dan siklus pokok dalam ruang kelas. Kata yang berasal dari buku teks ejaan juga dapat ditambahkan dalam daftar, tapi sebaiknya jangan memenuhi daftar.
The Monday Pretest (Praujian Senin). Pada senin guru mengadakan sebuah praujian/pratest dengan menggunakan daftar kata-kata utama,dan siswa mencoba mengeja kata sebanyak mereka bisa. Siswa memperbaiki hasil ujian mereka sendiri, dan dari kesalahan pengejaan yang mereka buat, mereka memolih 5-8 kata untuk dipelajari. Mereka membuat 2 salinan daftar. Siswa menomori kata-kata ejaan menggunakan nomor pada daftar utama untuk mempermudah menghadapi ujian hari jum’at. Siswa menyimpan satu salinan daftar untuk dipelajari, dan guru menyimpan salinan kedua.
Belajar kata selama seminggu. Siswa menghabiskan kira-kira 5-10
menit setiap hari selama seminggu untuk mempelajari kata-kata pada daftarnya.
4.Penyesuaian Untuk Memenuhi Kebutuhan Setiap Siswa
Ejaan dan komponen bahasa lainnya dapat diselesaikan untuk memenuhi kebutuhan dari semua siswa, dan penyesuaian paling penting yang dapat dilakukan guru adalah memahami kepentingan relatife suatu komponen bahasa dalam program kesenian bahasa. Kompetensi komunikatif adalah tujuan dari petunjuk seni bahasa, dan komponen bahasa menyangga komunikasi namun tidak sama dengan komunikasi. Untuk pelajaran mengeja, yang artinya mendorong siswa untuk menggunakan ejaan buatan/ciptaan sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan yang lain sebelum mereka mencapai tahap pengejaan lazim. Siswa yang belajar bahasa inggris sebagai bahasa kedua atau memilki kebutuhan khusus mungkin perlu waktu yang lebih lama untuk beralih pada tahap kelima pada ejaan buatan/ciptaan, dan ejaan buatan/ciptaan mereka mencerminkan pengucapan kata dan pengubahan nada suaranya. Misalnya, seorang anak yang mengatakan “I have two cat (Aku punya dua ekor kucing)” atau “yesterday I play with my friend (kemarin Aku bermain dengan temanku)” biasanya mengeja kata dengan cara yang sama.
Untuk Memenuhi Kebutuhan Setiap Siswa
1.Mendorong siswa untuk menggunakan ejaan buatan/ciptaan
Pengeja yang buruk terlalu sering tidak mau menulis karena terlalu banyak kata yang mereka tidak tahu cara mengejanya. Guru sebaiknya mendorong siswa untuk menggunakan ejaan buatan/ciptaan, tak peduli berapapun usia mereka, karena dapat memicu meraka untuk menulis sendiri. Ejaan yang mereka ciptakan memberikan pengetahuan yang bernilai tertahap apa yang diketahui siswa tentang ortografi bahasa inggris dan pelajaran seperti apa yang mereka butuhkan.
2.Mengajar kata berfrekuensi tinggi (sering muncul)
Pengeja yang buruk sebaiknya belajar mengeja 100 kata-kata yang paling sering digunakan karena banyak manfaatnya. Dengan mengetahui 100 kata tersebut, siswa dapat mengeja dengan benar kira-kira setengah dari seluruh kata yang mereka tulis.

3. Mengajarkan strategi “pikirkanlah”
Pengaja yang buruk mengandalkan pada strategi “bunyikanlah” untuk mengeja kata sedangkan pengeja yang lebih baik memahami bahwa bunyi hanya merupakan panduan kasar untuk mengeja. Guru menggunakan pelajaran mini untuk mengajar siswa bagaimana memikirkan dan memperkirakan ejaan suatu kata yang tidak dikenal.
4.Membaca dan menulis setiap hari
Siswa yang merupakan pengeja yang buruk sering kali tidak menulis ataupun membaca terlalu banyak, namun mereka perlu membaca dan menulis setiap hari agar menjadi pengeja yang lebih baik.
5.Menghargai suatu kesalahan sebagai bagian dari proses belajar
Siswa kelas satu yang menggunakan ejaan buatan/ciptaan dan siswa yang lebih tua yang merupakan pengeja yang buruk tidak mendapat manfaat dari coretan guru untuk setiap kesalahan pada kertas ujiannya. Malahan, guru dan siswa sebaiknya bekerjasama untuk mengintifikasi dan memperbaiki kesalahan pada proyek karya tulis yang akan dibublikasikan. Terlalu banyak penekanan pada kesalahan yang dibuat oleh siswa tidak membantu mereka mengeja: justru mengajar bahwa mereka tidak bisa mengeja.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar